Aulia Akbar - Okezone
Foto : Jubir Kemlu AS Patrick Ventrell (Reuters)
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) mendesak Israel dan Palestina menahan diri tepat setelah munculnya insiden penyerangan di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. AS juga berkomentar mengenai penahanan Mufti Besar Yerusalem.
"Kami khawatir dengan ketegangan yang terjadi di Haram al-Sharif, termasuk di antaranya adalah penahanan Mufti Besar hari ini," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Patrick Ventrell, seperti dikutip AFP, Kamis (9/5/2013).
"Kami mengerti bahwa dia sudah dibebaskan, namun kami tetap mendesak seluruh pihak agar menghormati status quo terhadap tempat suci ini, serta menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang provokatif," imbuhnya.
Polisi Israel menahan Mufti Mohammed Hussein atas tuduhan "menghasut kerusuhan" di Masjid Al-Aqsa tepat pada saat Israel merayakan Hari Yerusalem. Musti Hussein digiring oleh detektif Israel dari kediamannya ke kantor polisi.
"Beberapa kursi dilempar ke arah warga Yahudi di Haram al-Sharif (saat kerusuhan berlangsung)," ujar juru bicara polisi Israel Micky Rosenfeld.
Seperti diketahui, insiden penyerangan Masjid Al-Aqsa merupakan hasutan pemukim Yahudi pro-Zionis di Israel. Warga Palestina langsung menyerukan perlindungan di wilayah sekitar masjid suci tersebut.
"Esktrimis Yahudi ini bermaksud untuk melakukan skenario serupa di Masjid Ibrahim al Khalil. Kami mendesak seluruh warga Palestina untuk menentang tindakan provokatif tersebut dengan blokade di sekeliling Al-Aqsa," ujar Kepala Komiter Batalyon Palestina Khaled al-Hasani.
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga sudah berkomentar mengenai insiden ini. OKI langsung menegaskan, Israel menjadi pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. (AUL)