Perpustakaan Ditjen Ketenagalistrikan

Perpustakaan Ditjen Ketenagalistrikan melakukan terobosan terbaru di awal tahun 2010. Seiring dengan perkembangan teknologi, perpustakaan Ditjen Ketenagalistrikan memunculkan situs khusus perpustakaan yang menyajikan berita terbaru dari perpustakaan Ditjen Ketenagalistrikan, Fitur Penelusuran Koleksi dan Fitur Usulan buku yang bisa dilakukan secara online. Keberadaan situs ini diharapkan mampu menjadi wadah informasi bagi para pengunjung perpustakaan (khususnya pegawai Ditjen Ketenagalistrikan) yang ingin mengetahui koleksi perpustakaan secara lebih dekat.

 

sumber : http://perpustakaan.djlpe.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1:berita-terbaru&catid=43:berita-terbaru&Itemid=56

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERPUSTAKAAN DIGITAL

Perpustakaan digital (digital library, elekctronic library, virtual library) adalah bentuk perpustakaan yang memiliki koleksi buku-buku dalam bentuk format digital, dan bisa diakses melalui komputer. Perpustakaan digital sangat berbeda dengan perpustakaan konvensional, yang masih berupa koleksi buku-buku tercetak, mikro film, kaset audio, video dan lain sebagainya. Sedangkan koleksi buku-buku atau data yang ada di perpustakaan digital, semua berada dalam suatu server komputer. Server komputer ini bisa ditempatkan baik di lingkungan setempat, atau di tempat lain yang berada cukup jauh dari pusat para pencari data, hal demikian itu dikarenakan pengguna dapat mengakses data perpustakaan digital tersebut melalui jaringan komputer.

 

 

Awal diperkenalkan perpustakaan digital melalui proyek NSF/DARPA/NASA:Digital libraries Initiative di tahun 1994. Saat ini dikenal banyak perpustakaan digital seperti Gutenberg, ibiblio, internet archive dan proyek yayasan Wikimedia yang termasuk wikisource, Wikipedia, wiktionary, wikiquote, wikibooks, wikinews, wikispecies, wikiversity, commons, meta-wiki, mediawiki, dan yang lainnya.

Definisi Perpustakaan Digital:
Perpustakaan Digital adalah perpustakaan yang seluruh koleksi-koleksinya menggunakan format digital yang tersusun dalam arsitektur komputerisasi. Perencanaan dan bentuk dari penampilannya disusun dalam sebuah bentuk kegiatan yaitu proyek perpustakaan digital.

Penelitian proyek perpustakaan digital memakai sistem WWW (world wide web) yang terhubung dengan jaringan internet sebagai alat penyalur informasi utama. WWW mempunyai banyak keunggulan, karena disuport dari berbagai macam protokol komunikasi seperti (HTTP, FTP, Gopher), penggunaan HTML sebagian menggunakan bahasa standard markup, dan kelebihan pada GUI (Graphical user interface)

Merujuk pada DIGLIB, perpustakaan digital merupakan bentuk dari suatu organisasi yang melakukan aktifitas seperti, menyortir, mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan koleksi digital dengan maksud, menjaga, melestarikan dan yang terpenting adalah mendistribusikan kepada para pengguna/pemakai, sehingga para pengguna dengan mudah, cepat, dan tepat dapat mengakses data dan sumber informasi melalui digital tersebut, serta mendapat informasi tentang ilmu pengetahuan yang dicarinya. Di samping itu, organisasi juga membuat dan merancang jaringan dan kerjasama dengan memanfaatkan infrastruktur yang ada untuk mendukungnya, sehingga terjadi proses saling berbagi pengetahuan (knowledge-sharing) dengan yang lainnya, lebih cepat, dan tepat serta berguna.

Jenis Perpustakaan Digital:
Full Text.
– Pengolahan dan manipulasi data lebih mudah
– Ukuran data leibh kecil
– Data terformat dalam bentuk SGML (Standard Generalized Markup Language)
Page Image.
– Sesuai untuk system Browsing
– Tidak memerlukan font karena berupa file image
Proyek perpustakaan digital meneliti tentang dua hal yaitu:
1. Pendigitalan Dokumen: Meneliti tentang bagaimana mendigitalkan dokumen dan jenis pendigitalan dokumen baik yang berbentuk full text atau page image.
2. Pembangunan Database: Meneliti tentang pembangunan database meliputi pencarian judul, pencarian dokumen, pencarian gambar, katalog database, database gambar, dan database link informasi

Bagian-bagian dari Sistem Utama Perpustakaan Digital.

– Menerima/mengirim Server: Dilakukan penggantian (konversi) digital dari file analog ke dalam bentuk digital. File digital dikirim melalui pengiriman server menuju penerimaan server yang akan menangkap file yang terdapftar dan dibantu oleh knowbot.
– Pendaftaran Server: Pendaftaran server dilakukan untuk pertanggungjawaban: Penerimaan pesan dari Knowbot yang membawa informasi baru, pendaftaran pengguna baru.
– Pengindeksan , katalogisasi dan referensi server: Melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap file-file digital yang masuk.
– Database Server: Digunakan untuk memfasilitasi database baru.
– Akuntasi dan Statistik Server: Berfungsi sebagai pengumpul dan penyimpan data yang sesuai dengan penggunaan perpustakaan digital.
– Sistem Billing: Digunakan untuk pengumpulan data mengenai obyek yang baru diregistrasi
– Transformasi Server: Digunakan untuk mengubah masuknya data menjadi bentuk standar perpustakaan digital
– Sistem Perpustakaan Personal: Digunakan untuk mengkombinasikan keseluruhan program sehingga perpustakaan dapat berdiri sendiri.

Ketidak terbatasannya (spectrum) Perpustakaan Digital.

Spektrum dari sistem perpustakaan digital bergarak dari gambar (visual) menuju ke titik yang tidak terlihat (invisible) yang membentuk 6 sistem dan saling tumpang tindih.
– Penyajian tetap
– Isi tetap
– Daftar pertanyaan
– Pusat kontrol data
– Pelaksanaan program
– Struktur pengetahuan

Permasalahan dalam Perancangan dan Pembuatan Perpustakaan Digital.

Di dalam perancangan dan pembuatan perpustakaan digital kecil kemungkinannya menemui kendala, selama bahan dokumen yang diterima itu masih dalam bentuk file elektronik. Masalah atau kesulitan datang ketika, pada saat dokumen yang diterima berupa file non-elektronic, seperti kertas-kertas catatan atau buku cetak dll. Hal demikan merupakan masalah utama yang sering dibahas pada proyek-proyek penelitian, khususnya dalam perancangan dan pembuatan perpustakaan digital.

HAKI:

Hak cipta dokumen yang didigitalkan dalam bentuk mengubah dokumen menjadi digital dokumen, mengentri digital dokumen ke database, mengubah digital dokumen ke hypertext dokumen. Hak cipta dokumen dijaringan komunikasi. Solusi masalah hak cipta ini dikembangkan dalam bentuk ECSM (Electronic Copyright Management System).
Proses Pembuatan Perpustakaan Digital:
– The knowbot Operating Enviroment (KNOE), User Interface, pengumpulan database, Pencarian Natural Language Text
– Pengembangan sistem perpustakaan personal dengan dasar penelitian tahap 1
– Komponen-komponen perpustakaan digital yang diintegrasikan akan membentuk quasi-operational dari perpustakaan digital.
– Proses pelaksanaan perencanaan yang sudah dirancang.

Sumber : http://digilib.undip.ac.id/index.php/component/content/article/38-artikel/83-perpustakaan-digital

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perpustakan Dalam Dunia Islam

Dunia PerpustakaaN || Tradisi keilmuan peradaban Islam cukup dinamis. Ini dibuktikan dengan munculnya banyak karya di berbagai disiplin ilmu.

Ragam hasil pemikiran tersebut sebagiannya terdokumentasikan hingga kini dalam bentuk buku cetak ataupun digital.

Terpeliharanya karya para ulama masa lalu itu tidak terlepas dari fungsi dan keberadaan perpustakaan.

Menurut John L Esposito dalam “Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern”, perpustakaan-perpustakaan Islam pernah mengalami kejayaan.

Kegemilangan yang sama hendak dicapai oleh Muslim masa kini. Kegemaran kaum Muslim belajar secara alamiah menghasilkan budaya baca dan kegiatan pelestarian buku.

Koleksi perpustakaan pertama muncul pada periode Umayyah. Beberapa koleksi di perpustakaan itu bahkan masih terjaga hingga sekarang. Kemajuan pengembangan ilmu pengetahuan telah mampu menghadirkan catatan terkait aktivitas kepustakaan dan pengumpulan buku.

Adalah Khalid bin Yazid (704 M), dikenal sebagai sastrawan sekaligus kolektor buku. Mulanya, tradisi pengumpulan dan kepustakaan itu berawal dari perorangan, lembaga masjid, dan lembaga pendidikan. Institusi paling mononjol soal ini adalah masjid.

Khalifah al-Manshur (775 M) disebut-sebut sebagai pendiri cikal bakal perpustakaan. Ia mendirikan biro terjemahan di Baghdad. Pada pemerintahan al-Ma’mun (833 M), inisiatif tersebut disempurnakan dengan pendirian Bayt al-Hikmah yang merupakan perpustakaan pelopor kala itu.

Bahkan, lembaga yang berdiri pada 830 M itu, didaulat sebagai lahan sentral pengetahuan dunia Islam.

Keberhasilan itu merembet ke sejumlah wilayah kekuasaan Islam. Di Kairo, Dinasti Fatimiyah membangun Dar al-Ilmi, keturunan Bani Umayyah di Kordoba Spanyol mendirikan perpustakaan dengan koleksi buku sebanyak 400 ribu jilid.

Geliat penulisan pun meningkat setelah kertas mulai dikenalkan di dunia Islam pada abad ke-8 Masehi.

Penggunaan kertas itu kian populer dan memunculkan ragam profesi baru, salah satunya warraq atau panyalur dan penyalin kertas.

Pada 987 M, Ibn Nadim, yang tersohor sebagai warraq, menulis sebuah kepustakaan penting dengan karyanya yang berjudul al-Fihrist.

Buku itu berisi tentang daftar-daftar buku berikut isinya secara umum. Kesemua buku itu adalah karya yang pernah ia tangani.

Selanjutnya, kepustakaan dikembangkan oleh cendekiawan ternama asal Istanbul, Hajj Khalifah. Ia membuat daftar kitab-kitab klasik dilengkapi uraian singkat isinya. Total keluruhannya berjumlah 14.500 judul buku.

Sayangnya, buku-buku yang ada sepanjang sejarah kerap menjadi sasaran perusakan, baik oleh bencana alam atau ulah tangan manusia. Sejarah mencatat, tentara Mongol di Bahgdad pernah menghancurkan secara massal karya-karya Muslim saat itu.

Pada masa inkuisisi Spanyol, terjadi pemindahan ribuan naskah dari dunia Islam ke perpustakaan personal di Barat. Paling terkenal ialah Perpustakaan Inggris, Bibliotheque, dan Perpustakaan Nasional Prancis.

Pada abad ke-20, kondisi perpustakaan dan pustakawan yang agak memprihatinkan mendorong otoritas sejumlah negara mendirikan perpustakaan nasional untuk menginventarisasi koleksi-koleksi sarjana Muslim.

Seperti yang dilakukan oleh Yordania dan Mesir. Tapi, tetap saja pamor perpustakaan tersebut kurang. Bahkan, kalah dengan perpustakaan umum. Di beberapa negara, perpustakaan umum justru lebih diminati, seperti di Turki, Yordania, Pakistan, dan Malaysia.

sumber || republika.co.id

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pengertian Perpustakaan Sekolah dan Manfaatnya

Pengertian perpustakaan sekolah secara umum adalah sebuah tempat yang menyediakan koleksi literatur yang berguna bagi pendidikan di sekolah. Keberadaannya pun menyatu dengan lingkungan sekolah, serta hanya bisa diakses oleh civitas akademika sekolah yang bersangkutan.

Dari pengertian perpustakaan sekolah tersebut, menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah adalah sebuah tempat eksklusif yang tidak memungkinkan orang di luar sekolah untuk mengaksesnya. Dalam arti, orang di luar sekolahan tidak memiliki hak untuk menikmati koleksi perpustakaan serta meminjam koleksi yang ada tersebut bagi kepentingan pribadinya.

Adanya pengertian perpustakaan sekolah yang demikian eksklusif tersebut, bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi para guru dan siswa untuk menikmati koleksi perpustakaan. Di samping itu, hal tersebut untuk memudahkan administrasi dan pencatatan transaksi peminjaman dan pengembalian buku perpustakaan.

Perpustakaan sekolah adalah salah satu bagian kelengkapan yang harus ada di setiap lembaga pendidikan formal di berbagai tingkatan. Karena perpustakaan dianggap sebagai guru kedua, setelah guru yang ada di sekolah tersebut. Hal ini disebabkan perpustakaan adalah sebuah tempat di mana di dalamnya terdapat banyak ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi siswa untuk diketahui.

Manfaat Perpustakaan Sekolah

Adanya kehadiran perpustakaan di sekolah beserta koleksinya diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Khususnya melalui penambahan pengetahuan bagi guru dan siswa yang ada di sekolah tersebut. Beberapa manfaat dari keberadaan perpustakaan sekolah adalah :

  1. Merangsang minat membaca baik pada guru dan siswa. Karena membaca adalah sumber pengetahuan yang paling besar. Dari membaca, seseorang bisa mendapatkan informasi yang barangkali belum pernah dilihat atau didengarnya secara lengkap dan akurat.
  2. Sumber literatur yang paling dekat. Koleksi buku di perpustakaan adalah salah satu sumber bagi guru dan siswa untuk memperoleh literatur yang sesuai dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari.
  3. Perpustakaan sebagai pusat informasi. Untuk mendapatkan informasi terkini, salah satu tempat di sekolah yang bisa dituju adalah perpustakaan. Dalam perpustakaan biasanya dilengkapi dengan media massa yang terbit setiap hari sebagai media penyampai berita teraktual.
  4. Sumber pembelajaran menulis. Membaca koleksi perpustakaan, bisa menjadi bahan referensi apabila hendak menulis sebuah karya ilmiah, baik itu yang termasuk karya ilmiah murni atau juga karya ilmiah populer. Penulisan sebuah karya ilmiah memang harus didasarkan pada sumber literatur yang sudah ada sebelumnya. Perpustakaan bisa dijadikan rujukan untuk mencari literatur yang dibutuhkan.

 

 

sumber: http://www.anneahira.com/pengertian-perpustakaan-sekolah-14087.htm

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pengertian, Peran, dan Fungsi Perpustakaan

Pada zaman global sekarang, pendidikan merupakan sesuatu yang penting. Karena pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah bangsa. Pendidikan sekarang telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap orang agar bisa menjawab tantangan kehidupan.Untuk memperoleh pendidikan, banyak cara yang dapat kita capai. Diantaranya melalui perpustakaan. Karena di perpustakaan berbagai sumber informasi bisa kita peroleh, selain itu banyak juga manfaat lain yang dapat kita peroleh melalui perpustakaan. Ketika kita mendengar kata perpustakaan, dalam benak kita langsung terbayang sederetan buku-buku yang tersusun rapi di dalam rak sebuah ruangan. Pendapat ini kelihatannya benar, tetapi kalau kita mau memperhatikan lebih lanjut, hal itu belumlah lengkap. Karena setumpuk buku yang diatur di rak sebuah toko buku tidak dapat disebut sebagai sebuah perpustakaan.

Memang pengertian perpustakaan terkadang rancu dengan dengan istilah – istilah pustaka, pustakawan, kepustakawanan, dan ilmu perpustakaan. Secara harfiah, perpustakaan sendiri masih dipahami sebagai sebuah bangunan fisik tempat menyimpan buku – buku atau bahan pustaka. Untuk itu, pada pembahasan kali ini akan dikupas secara mendalam tentang pengantar umum perpustakaan yang meliputi : pengertian perpustakaan, maksud dan tujuan pendirian perpustakaan, jenis – jenis perpustakaan, peranan, tugas, dan funsi perpustakaan, aktifitas pokok perpustakaan, dan perpustakaan sebagai disiplin ilmu.

Pengertian Perpustakaan
Perpustakaan diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ).

Ada dua unsur utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan. Namun, di zaman sekarang, koleksi sebuah perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku, tetapi bisa berupa film, slide, atau lainnya, yang dapat diterima di perpustakaan sebagai sumber informasi. Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir, disusun teratur, sehingga ketika kita membutuhkan suatu informasi, kita dengan mudah dapat menemukannya.

Dengan memperhatikan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi. ( Sugiyanto )

Menurut RUU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan.

Perpustakaan adalah fasilitas atau tempat menyediakan sarana bahan bacaan. Tujuan dari perpustakaan sendiri, khususnya perpustakaan perguruan tinggi adalah memberikan layanan informasi untuk kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Wiranto dkk,1997).

Secara umum dapat kami simpulkan bahwa pengertian perustakaan adalah suatu institusi unit kerja yang menyimpan koleksi bahan pustaka secara sistematis dan mengelolanya dengan cara khusus sebagai sumber informasi dan dapat digunakan oleh pemakainya.

Namun, saat ini pengertian tradisional dan paradigma lama mulai tergeser seiring perkembangan berbagai jenis perpustakaan, variasi koleksi dalam berbagai format memungkinkan perpustakaan secara fisik tidak lagi berupa gedung penyimpanan koleksi buku.

Banyak kalangan terfokus untuk memandang perpustakaan sebagai sistem, tidak lagi menggunakan pendekatan fisik. Sebagai sebuah sistem perpustakaan terdiri dari beberapa unit kerja atau bagian yang terintergrasikan melalui sistem yang dipakai untuk pengolahan, penyusunan dan pelayanan koleksi yang mendukung berjalannya fungsi – fungsi perpustakaan.

Perkembangannya menempatkan perpustakaan menjadi sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. Dari istilah pustaka, berkembang istilah pustakawan, kepustakaan, ilmu perpustakaan, dan kepustakawanan yang akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Pustakawan : Orang yang bekerja pada lembaga – lembaga perpustakaan atau yang sejenis dan memiliki pendidikan perpustakaan secara formal.

2. Kepustakaan : Bahan – bahan yang menjadi acuan atau bacaaan dalam menghasilkan atau menyusun tulisan baik berupa artikel, karangan, buku, laporan, dan sejenisnya.

3. Ilmu Perpustakaan : Bidang ilmu yang mempelajari dan mengkaji hal – hal yang berkaitan dengan perpustakaan baik dari segi organisasi koleksi, penyebaran dan pelestarian ilmu pengetahuan teknologi dan budaya serta jasa- jasa lainnya kepada masyarakat, hal lain yang berkenaan dengan jasa perpustakaan dan peranan secara lebih luas.

4. Kepustakawanan : Hal – hal yang berkaitan dengan upaya penerapan ilmu perpustakaan dan profesi kepustakawanan.

B. Maksud dan Tujuan Pendirian Perpustakaan

Aktifitas utama dari perpustakaan adalah menghimpun informasi dalam berbagai bentuk atau format untuk pelestarian bahan pustaka dan sumber informasi sumber ilmu pengetahuan lainnya. Maksud pendirian perpustakaan adalah :

Menyediakan sarana atau tempat untuk menghimpun berbagai sumber informasi untuk dikoleksi secara terus menerus, diolah dan diproses.
Sebagai sarana atau wahana untuk melestarikan hasil budaya manusia ( ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya ) melalui aktifitas pemeliharaan dan pengawetan koleksi.
Sebagai agen perubahan ( Agent of changes ) dan agen kebudayaan serta pusat informasi dan sumber belajar mengenai masa lalu, sekarang, dan masa akan datang. Selain itu, juga dapat menjadi pusat penelitian, rekreasi dan aktifitas ilmiah lainnya.
Tujuan pendirian perpustakaan untuk menciptakan masyarakat terpelajar dan terdidik, terbiasa membaca, berbudaya tinggi serta mendorong terciptanya pendidikan sepanjang hayat ( Long life education ).

C. Jenis – Jenis Perpustakaan

Jenis – jenis perpustakaan yang ada dan berkembang di Indonesia menurut penyelenggaraan dan tujuannya dibedakan menjadi :

Perpustakaan Digital adalah Perpustakaan yang berbasis teknologi digital atau mendapat bantuan komputer dalam seluruh aktifitas di perpustakaannya secara menyeluruh. Contohnya : Buku atau informasi dalam format electiric book, piringan, pita magnetik, CD atau DVD rom.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, selanjutnya disebut Perpustakaan Nasional, adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang perpustakaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang berkedudukan di Ibukota Negara.
Perpustakaan Provinsi adalah Lembaga Teknis Daerah Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan perpustakaan di wilayah provinsi serta melaksanakan layanan perpustakaan kepada masyarakat.
Perpustakaan Kabupaten/Kota adalah Lembaga Teknis Daerah Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan perpustakaan di wilayah Kabupaten/Kota serta melaksanakan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum.
Perpustakaan Umum : Perpustakaan yang ada di bawah lembaga yang mengawasinya. Perpustakaan umum terbagi atas :
Perpustakaan Umum Kecamatan, adalah Perpustakaan yang berada di Kecamatan sebagai cabang layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi masyarakat di wilayah masing-masing.
Perpustakaan Umum Desa/Kelurahan adalah perpustakaan yang berada di Desa/Kelurahan sebagai cabang layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi masyarakat di desa/kelurahan masing-masing.
Perpustakaan Khusus : Perpustakaan yang diperuntukkan untuk koleksi- koleksi tokoh terkenal. Contohnya : Perpustakaan Bung Hatta.
Perpustakaan lembaga Pendidikan : Perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga pendidikan (SD, SMP, SMA, PT, dan LSM). Contohnya : perpustakaan Universitas. Pada perpustakaan tingkat PT, perpustakaan dapat dibagi kembali menjadi dua, yaitu : perpustakaan pusat dan perpustakaan tingkat fakultas.
Perpustakaan Lembaga Keagamaan : Perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga keagamaan. Contohnya : Perpustakaan Masjid, perpustakaan Gereja, dll
Perpustakaan Pribadi : Perpustakaan yang diperuntukkan untuk koleksi sendiri dan dipergunakan dalam ruang lingkup yang kecil. Contohnya : Perpustakaan keluarga.
D. Peranan, Tugas, dan Fungsi Perpustakaan

Peranan Perpustakaan

Setiap perpustakaan dapat mempertahankan eksistensinya apabila dapat menjalankan peranannya. Secara umum peran – peran yang dapat dilakukan adalah :

Menjadi media antara pemakai dengan koleksi sebagai sumber informasi pengetahuan.
Menjadi lembaga pengembangan minat dan budaya membaca serta pembangkit kesadaran pentingnya belajar sepanjang hayat.
Mengembangkan komunikasi antara pemakai dan atau dengan penyelenggara sehingga tercipta kolaborasi, sharing pengetahuan maupun komunikasi ilmiah lainnya.
Motivator, mediator dan fasilitator bagi pemakai dalam usaha mencari, memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman.
Berperan sebagai agen perubah, pembangunan dan kebudayaan manusia.

SUMBER : http://warintek08.wordpress.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Back to the Future: The Changing Paradigm for College Textbooks and Libraries

By Fred Stielow, Raymond Uzwyshyn
05/25/11

The debate over electronic textbooks and ever-increasing costs for traditional textbooks continues to rage. Part of these Web-era dilemmas ironically involves the willingness to face contradictions from the university’s past.

Reliance on textbooks is the rub. It can be understood as a legacy of the post-WWII GI bill. Schools needed industrial-strength solutions to handle the unprecedented waves of new students. Publishers stepped to the fore to offer a commoditized solution, albeit with the best of intentions. They would work with a select group of faculty to produce a wide variety of textbooks, they would entice other instructors with free review copies, and students would incur reasonable shipping and costs.

Yet, an escalating cycle of problems also ensued. Used book sales and campus bookstores arose to offer schools a ready flow of income. Those creations undermined the publishers’ profit potential and growing sense of entitlement. By the end of the 90s, publisher redress resulted in the ever more rapid introduction of “new” editions and an inflationary nightmare for students.

Student upset after Y2K led to congressional investigations and, ultimately, the 2008 Higher Education Opportunity Act. HEOA mandated that ” students have access to affordable course materials by decreasing costs to students and enhancing transparency and disclosure with respect to the selection, purchase, sale, and use of course materials.”

And, the Web’s long tail entered the scene. In the early 21st century, viable electronic alternatives appeared with pricing differentials. The Web also brought forth a new player: the online university with its asynchronous classrooms. Since these schools typically lack traditional, interactive lectures, they lend a higher premium to assigned readings.

The American Public University System went even further. Under the mantle of its original American Military University (AMU) brand, the school pioneered the underwriting of undergraduate course materials. Instead of a pass-through, textbook costs became part of a bottom-line equation and different type of entrepreneurial scrutiny. The response was led by the most traditional element of our university–the library. It questioned past university models and promoted an innovative three-part growth and diversification strategy–one with broad implications for all of higher education.

Electronic Textbooks: Given the evolving state of electronic textbooks and a largely military student clientele, we initially relied on print and mail shipments. In 2006, we transitioned to electronic bookstore operations. What was expected to be a simple electronic conversion process quickly proved to be more complex. We were thrust into incomplete technologies and the paranoid world of textbook publishers. Research revealed the reasonableness of negotiating for a 65 percent discount off print price. Although publisher finance departments squirm, that level was justified by the elimination of used book sales, warehousing, and production costs. Short-term rentals at roughly the same price seemed illogical and were dismissed as options.

Operations themselves are still unfolding. The issues of a unified reading experience and digital rights management remain. Attention also increasingly turns to the immense savings from open-access textbooks, which have been growing in both availability and quality.

Online Library: The second prong focused on the academic library. The library would be a proactive element in seeding course materials. In our analysis, the university was already paying vast sums of money to capitalize information resources. Why not use them? Research established that much of the barriers drew from a 19th-century research trope, which gave birth to the modern university. It didn’t make sense, however, to continue the divorce from the classroom for a teaching institution in the Information Age. Indeed, how could one pretend to teach advanced courses in any discipline without redress to the field’s scholarly journals, articles, resources, and databases? And, to what  degree do such classes even require a textbook?

Our solution was further enhanced by recruiting subject-specialist librarians.
They would work in partnerships with faculty–especially as the school explored
new programs. Who better to help maintain currency and quality, while
uncovering treasures on the Open Web and within the library’s own licensed
scholarly literature?

University Press: The third, and final, element places us within the small, but growing ranks of those re-engineering financially challenged universities. Our same logic persevered with the historical roots to the same 19th-century research orientation as the library. Again, why not orient presses toward direct classroom services? Why should students pay external publishers for anthologies of materials already freely available on the Web? What’s more, why should a university or program be forced to buy back the writings of their own faculty?

The reply concentrates on niche programs. We look to programs where the faculty is strongest, external course literature weakest, and student demand makes economic sense. Our new AMU ePress then engages faculty as authors and editors along with accompanying librarians for added Web research. Their collective task is to produce the highest-quality electronic textbooks for internal consumption, coupled with flexible, print-on-demand options for students.

That is a brief overview of a dynamic electronic bookstore, online library, and e-press “mashup.” While still unfolding, results to-date have been encouraging. Quality and currency are enhanced. Textbook inflation has been stalled with annual savings now totaling in the millions. Equally important, such proactive initiatives proffer a fundamental redefinition of university course materials and herald new pedagogies for the Web Age.

sumber : http://campustechnology.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Saatnya Perpustakaan Berinovasi

Oleh:
Muktamarudin Fahmi
Pustakawan UBB

“Salah satu yang dapat menjadi perhatian bagi para pengelola perpustakaan saat ini adalah tersedianya berbagai perangkat elektronik”

PERTUMBUHAN teknologi informasi dewasa ini, ibarat jet tempur yang terus melesat secepat kilat di angkasa. Tidak ada yang dapat menghentikannya kecuali si pilot yang mengendalikan pesawat itu sendiri.

Pengibaratan tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang sekarang ini terjadi di kalangan insan atau lembaga penyedia informasi. Sebut saja dunia pertelevisian (hiburan) dan surat kabar (berita) yang terus menerus melakukan inovasi. Maka lahirlah berbagai halaman domain, yaitu sebuah istilah yang dipakai untuk mengakses atau merefensikan sumber tertentu di internet yang dikembangkan oleh para pekerja informasi baik media cetak maupun media elektronik. Hal ini dilakukan agar informasi yang ada, tidak ketinggalan dengan perubahan pola hidup pemakai (user) informasi yang saat ini telah dimanjakan oleh berbagai media online yang bersifat cepat.

Lantas, bagaimana dengan perpustakaan? Keberadaan sebuah perpustakaan tidak jauh berbeda dengan komponen penyedia informasi lainnya, apakah itu sebuah kantor berita atau pusat dokumentasi. Sebagai sebuah lembaga yang didirikan untuk mendukung kebutuhan ilmu pengetahuan dan sebagai pusat penelitian, perpustakaan dituntut untuk terus memberikan yang terbaik kepada masyarakat pemakai (pemustaka).

Untuk itu, diperlukan perencanaan yang matang terutama, perencanaan mengenai komponen utamanya yang diharapkan dapat menjadi pokok pengembangan seperti, tersediaanya sumber daya manusia (pustakawan dan Tenaga Administrasi) yang handal, koleksi yang memadai, sistem layanan yang baik, fasilitas pendukung dan marketing.
Pada intinya, sebuah perpustakaan harus bisa memahami kebutuhan pemustaka walaupun pada kenyataannya tidak ada satupun perpustakaan yang dapat memenuhi seratus persen kebutuhan para pemustaka.

Adanya sebuah perpustakaan di sebuah wilayah atau daerah, diharapkan dapat meningkatkan kualitas masyarakat di sekitarnya. Setiap masyarakat sudah pasti membutuhkan sarana yang nyaman dan memadai untuk proses belajar, disamping keberadaan sekolah sebagai tempat belajar yang sudah umum. Sebut saja, tempat kursus dan juga pusat pelatihan, tetapi itu semua belum cukup. Perlu adanya sebuah lembaga yang dapat menunjang ketersedian informasi bersifat luas dan gratis, ini semua dapat terpenuhi jika di daerah tersebut memiliki sebuah perpustakaan.

Beberapa minggu yang lalu, media ini mengangkat pemberitaan mengenai tingkat pengunjung perpustakaan di beberapa daerah di Bangka Belitung yang masih sangat minim.

Minimnya tingkat pengunjung tersebut tentu ada beberapa sebab yang melatar belakanginya, mungkin letak perpustakaan yang kurang strategis, koleksi yang masih sedikit, fasilitas tempat membaca yang tidak nyaman, serta kurangnya promosi yang dilakukan. Karena memang, keberadaan sebuah Perpustakaan Daerah (Umum), berbeda dengan keberadaan Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Perguruan Tinggi telah memiliki pengunjung tetap (aktif) yaitu masyarakat sekolah (murid dan guru) dan masyarakat kampus (mahasiswa, dosen dan karyawan) walaupun tujuan keberadaan perpustakaan tetap sama yaitu ingin mencerdaskan masyarakat dan membantu masyarakat mendapatkan informasi yang sesuai dengan keinginan mereka.

Salah satu yang dapat menjadi perhatian bagi para pengelola perpustakaan saat ini adalah tersedianya berbagai perangkat elektronik, sebut saja komputer yang bukan lagi menjadi barang mewah dan paling banyak di pakai di dunia perkantoran sekarang ini, adanya komputer sebagai mesin penyimpan dan temu kembali data/arsip secara cepat dan tepat, dapat menjadi nilai jual tersendiri bagi sebuah perpustakaan, apalagi bila perangkat tersebut telah didukung dengan sebuah software perpustakaan yang saat ini banyak dikembangkan oleh beberapa lembaga masyarakat pecinta perpustakaan dan juga lembaga milik pemerintah. Software ini bisa didapat secara gratis dengan cara mendownload di internet.

Namun lagi-lagi masalah SDM yang memiliki kemampuan di bidang komputer masih sangat minim dan mungkin sama sekali tidak dimiliki oleh sebuah perpustakaan. Hal inilah yang menyebabkan ketertinggalan perpustakaan dengan lembaga penyedia informasi lainnya.

Pengelolaan sebuah perpustakaan dengan bantuan komputer disamping mempermudah proses imput data (otomasi) juga lebih efisien, dan dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna perpustakaan yang akan berakibat pada meningkatkanya citra perpustakaan. Sebuah perpustakaan harus terus berinovasi menuju ke arah yang lebih moderen, bukan lagi pengelolaan secara manual atau masih menggunakan metode pencatatan di sebuah buku double folio ketika ada pemustaka yang ingin meminjam buku, biar sistem yang bekerja, sehingga nantinya Pustakawan/Petugas Perpustakaan memiliki waktu yang banyak untuk melakukan pengembangan perpustakaan, karena pekerjaan yang sifatnya berulang sudah dikelola oleh komputer.

Moderenisasi sebuah perpustakaan juga tidak harus mahal, perpustakaan yang telah memiliki koleksi kurang dari lima ribu eksemplar buku, cukup dengan memiliki satu atau dua unit komputer yang dapat dipakai untuk Otomasi (Pengadaan koleksi, Katalogisasi, Sirkulasi, Pengelolaan, Keanggotaan dan Statistik) dan layanan, serta untuk administrasi ketatausahaan.

Untuk itu, peran pemerintah, terutama pemerintah daerah yang memiliki Perpustakaan Umum, perlu mengambil sikap yang cepat bagi pengembangan perpustakaan di daerah tersebut. Terutama peningkatan kualitas SDM, kualitas koleksi dan layanan serta kelengkapan peralatan pendukung seperti komputer mutlak tersedia.

Selanjutnya kegiatan promosi perpustakaan perlu terus ditingkatkan, karena ini penting. Sebab, kehadiran sebuah perpustakaan tak ubahnya sebuah perusahaan yang memiliki berbagai produk yang bagus dan produk tersebut perlu di promosikan (iklan) ke seluruh masyarakat, sehingga akhirnya masyarakat tertarik dan ingin memiliki produk tersebut.

Demikian juga dengan perpustakaan, masyarakat harus tahu dulu apa itu perpustakaan? Bagaimana dengan koleksinya dan juga pelayanannya? Yang pada akhirnya masyarakat semakin mengerti dan punya keinginan untuk berkunjung ke perpustakaan.

Semoga saja di tahun 2012 ini, perpustakaan semakin berkembang dan di cintai oleh masyarakat, serta dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam upaya mencerdaskan generasi penerus bangsa. (*)

 

 

sumber : bangkapos.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lomba Menulis Tentang Perpustakaan Bagi Siswa SMU Dan Sederajat Tingkat Nasional 2010

LATAR BELAKANG

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, mengamanatkan bahwa setiap sekolah harus menyediakan sumber belajar yang diperlukan untuk kegiatan beljar mengajar, salah satu sumber belajar yang amat penting adalah perpustakaan. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu komponen dalam system pendidikan nasional mengemban fungsi sebagai pusat kegiatan belajar mengajar, pusat penelitian sederhana, dan pusat kegiatan membaca guna menambah ilmu pengetahuan dan rekreasi.

Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan bahwa Perpustakaan sekolah merupakan salah satu sarana penunjang kurikulum dan proses belajar mengajar di sekolah sekaligus berperan dalam meningkatkan budaya gemar menulis siswa. Dengan adanya Perpustakaan Sekolah memungkinkan guru dan siswa memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan dengan memanfaatkan bahan pustaka yang ada di perpustakaan. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan budaya gemar membaca siswa, salah satu upaya untuk mengembangkan gemar membaca siswa adalah diadakannya lomba menulis tentang perpustakaan.

Bertolak dari pemikiran diatas khususnya bagi siswa SMU dalam meningkatkan budaya baca siswa, maka Perpustakaan Nasional RI berkerjasama dengan instansi terkait akan mengadakan “Lomba Menulis Tentang Perpustakaan Bagi Siswa SMU dan Sederajat Tingkat Nasional Tahun 2010.”

TEMA

“Pemanfaatan Perpustakaan Untuk Meningkatkan Budaya Gemar Membaca dan Menulis Siswa”

TUJUAN

  1. Meningkatkan pemahaman dan pengungkapan informasi tentang Perpustakaan secara lengkap, jelas, dan terinci yang diperoleh dari bahan bacaan dan pengalaman menjadi anggota perpustakaan;
  2. Untuk menumbuhkan kecintaan menulsi di kalangan siswa SMU dan Sederajat

SASARAN

Terpilihnya 10 orang pemenang Lomba Menulis Tentang Perpsutakaan Bagi Siswa SMU dan Sederajat Tingkat Nasional Tahun 2010 terdiri juara I,II,III dan Harapan I,II,III serta 4 pemenang Favorit.

PELAKSANAAN

Final Lomba Menulis Tingkat Nasioanl dilaksanakan pada tanggal 3-5 Agustus di Jakarta

PENUTUP

Kegiatan Lomba Menulis Tingkat Nasional dilaksankan dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia dikalangan siswa SMU dan Sederajat yang mampu mengembangkan diri dalam menambah ilmu pengetahuan melalui menulis.

Note: Untuk biodata pendaftaran bisa mengambil di Kantor Arsip dan Perpustakaan Indramayu

Naskah langsung dikirim ke Panitia dengan alamat: Pusat Pengembangan Perpustakaan dan pengkajian Minat Baca Cq.Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Minat Baca, Perpustakaan Nasional RI Jl.Merdeka Selatan No.11 Jakarta Pusat Kode Pos 10010.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menguhubungi Pantia Lomba Menulis Perpustakaan Nasional RI  di telp.021-3448812

 

sumber: http://web.arpusindramayu.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hybrid Library: Sebuah Alternatif Bagi Perpustakaan Umum Daerah Di Era Digital

Pengetahuan dan informasi bagaikan kedua sisi mata uang yang berbeda. Keduanya merupakan sesuatu hal yang sangat penting bagi setiap individu maupun institusi. Namun Informasi lebih bersifat sementara (transitory) daripada pengetahuan. Disamping itu informasi dapat pula menyumbang pengetahuan, dalam artian dapat digunakan untuk mendukung ataupun menolak teori. Dengan demikian informasi terkadang menjadi sebuah guide untuk menjadi pengetahuan.
Berkaitan hal itu, informasi yang lazimnya menjadi pengetahuan bagi tiap-tiap individu maupun institusi, dapat dipastikan menginginkan kecepatan dan ketepatan dalam memperolehnya. Mereka (individu / institusi) akan lebih cenderung mencari informasi tersebut ke pusat-pusat infrormasi (information centre) yang menurutnya banyak membantu dalam pencarian informasi yang diinginkannya. Fenomena tersebut akan berimplikasi terhadap pusat-pusat informasi yang profit orientid maupun non profit orientid dengan menawarkan jasa dengan berbagai kelebihannya. Yang profit orientid tentunya akan lebih gencar lagi dalam merangkul para audiennya dengan harapan akan mendapatkan keuntungan yang memuaskan. Sehingga apa yang dikatakan dengan Marc Porat mengenai ekonomi informasi tampaknya sudah menjadi kenyataan, dimana informasi merupakan sesuatu yang dapat diperjualbelikan.
Disisi lain ada pusat-pusat informasi yang mengkedepankan idealisme dengan menawarkan sebuah jasa informasi tidak hanya mencari keuntungan belaka atau dengan kata lain non profit orientid yaitu salah satunya adalah Perpustakaan. Secara garis besar, sebuah perpusatakaan mempunyai tugas pokok menghimpun, menyimpan, menyebarkan, dan melestarikan sebuah informasi kepada pemakai (user). Agar informasi tersebut dapat terakses oleh para pemakai (user), maka perlu melakukan upaya “standing request” yaitu pemencaran informasi yang dilakukan terus menerus dengan cara temu balik informasi dan mengusahakan agar informasi yang disebarkan atau ditelusur sampai pada sasarannya. Akan tetapi, karena informasi tidak memiliki eksistensi fisik secara sendiri, maka harus diekspresikan dalam bentuk material (seperti tinta dan kertas), ini terjadi pada perpusatakaan konvensional atau dalam bentuk energi seperti impuls atau gelombang elektrik.(baca Teknologi Komunikasi Dalam Perspektif : 90), yang erat kaitannya dengan perkembangan teknlogi komunikasi dan teknologi informasi.
Perpustakaan Hybrida

Sejalan dengan itu, penerapan teknologi komunikasi dan teknologi informasi di Perpustakaan memiliki dua fungsi pokok yaitu pertama, penerapan teknologi yang digunakan untuk internal perpustakaan seperti data koleksi, data anggota, data sirkulasi peminjaman dan pengembalian, dan lain-lain. Singkatnya pada fungsi ini bertujuan untuk mengefektifkan dan mengefesienkan pekerjaan sumber daya manusia yang ada didalamnya atau sering disebut sebagai kategori automasi perpustakaan. Kedua, penerapan teknologi sebagai penyimpan dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan yang lebih cepat dan mudah. Fungsi ini lebih ditujukan untuk para pemustaka (user) perpustakaan dan biasanya dikategorikan sebagai pepustakaan elektronik. Dimana dalam perpustakaan elektronik informasi yang akan diakses tidak terbatasi oleh ruang dan waktu.
Merujuk dua fungsi pokok dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk perpustakaan diatas, dimana perpustakaan umum di daerah-daerah yang saat ini kebanyakan masih menganut paham konvensional, maka sudah selayaknya perpustakaan umum di daerah-daerah ini mulai beranjak menjadi perpustakaan hibrida (hybrid library) yaitu perpaduan antara perpustakaan konvensional yang berbasis informasi cetak (hard copy) dengan perpustakaan automasi dan perpustakaan digital/maya yang berbasiskan informasi elektronik (e-library). Perpustakaan hibrida adalah sebuah alternatif untuk menjadi perpustakaan yang mengikuti perkembangan zaman di era digital dengan mengkedapankan akses layanan informasi pengetahuan yang cepat, tepat, dan mudah kepada pemustaka (user) namun dengan tidak menghilangkan informasi yang berbentuk cetak / teks. Karena bagaimanapun, kemajuan dibidang teknologi tidak serta merta segala yang berbentuk tercetak tak ada kelebihannya, melainkan akan lebih abadi dibanding dunia virtual.
sumber: http://web.arpusindramayu.com/hybrid-library-sebuah-alternatif-bagi-perpustakaan-umum-daerah-di-era-digital/
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perpustakaan ideal, Sebuah Rumah Untuk Pengetahuan

Seberapa sering kita bertanya pada diri kita sendiri berapa kali kita sudah mengunjungi perpustakaan pada bulan ini atau pada tahun ini? Jujur dalam hati kita akan tertawa geli saat kita hampir tak bisa mengingat kapan terakhir kali kita menginjakkan kaki ke dalam sebuah perpustakaan. Tetapi itu lebih baik, daripada kita tidak pernah memiliki selintaspun pemikiran terhadap sebuah perpustakaan. Tidak dapat dipungkiri, kecanggihan teknologi informasi memberikan kita sebuah kemudahan dalam mencari informasi yang kita butuhkan. Bila ada pertanyaan, maka tanya saja pada “Mbah Google” yang tahu tentang apapun. Sehingga saat ini tidak perlu kesulitan bergelut dengan buku-buku yang ada pada rak-rak tua perpustakaan jika kita mengenal tentang internet dan siapa tidak tahu tentang internet? Kecuali hanya segelintir orang saja yang mengaku kesulitan dengan penggunaan perangkat elektronik yang terhubung dengan internet. Sangat disayangkan, tapi itu memang ada dan sebuah kenyataan.

Lalu, setelah kemudahan teknologi yang ada, dimana posisi perpustakaan saat ini? Tentu saja masih dalam posisinya sebagai salah satu sumber informasi bagi masyarakat walaupun sekarang posisinya tidak sepopuler beberapa tahun yang lalu. Bila bisa mendapatkan informasi dari internet, mengapa harus susah-susah pergi keperpustakaan yang belum tentu kita bisa mendapatkan apa yang kita cari. Tentu saja pemikiran ini tidak hanya dimiliki satu atau dua orang, kemudian lambat laun perpustakaan bergeser peringkatnya dari pemberi informasi utama menjadi hanya nomor dua. Mengapa bisa demikian? Mungkin penyebab penurunan minat penggunaan perpustakaan bisa dikarenakan tidak bisa bersaingnya perpustakaan dengan kecepatan informasi yang didapat dari internet. Orang akan lebih senang jika mereka lebih cepat mendapatkan apa yang mereka inginkan, lebih mudah dalam proses yang harus dilakukan dan kenyamanan yang akan mereka dapatkan. Perpustakaan dinilai tidak begitu dapat memenuhi hal-hal tersebut, sehingga orang-orang lebih menyukai duduk di rumah dengan nyaman untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan dengan cepat dan mudah menggunakan internet. Mereka terlalu malas pergi ke perpustakaan yang letaknya lebih jauh, seperti pusat kota karena perpustakaan besar yang dinilai lengkap koleksi bukunya biasanya ada di pusat kota. Malas dengan proses peminjaman yang berbelit-belit dikarenakan diharuskannya memiliki kartu anggota untuk dapat meminjam buku di perpustakaan. Terkadang mereka tidak dapat menemukan buku atau informasi yang mereka inginkan karena bukunya hilang, robek atau rusak yang menandakan kurangnya perhatian terhadap aset utama perpustakaan, yaitu buku. Atau mereka merasa bosan dengan suasana perpustakaan yang terkesan kuno dan ketinggalan jaman.

Kita harus khawatir dengan pemahaman yang salah tentang perpustakaan dimana akan membuat semakin lama masyarakat akan semakin meninggalkan perpustakaan. Padahal ada yang dapat kita ambil manfaatnya dari sebuah perpustakaan. Dalam perpustakaan inilah rumah ribuan buku yang menunggu dengan sabar tangan-tangan kita untuk meraih dan membuka lembaran-lembaranya. Nilai historis yang terkandung pada perpustakaan tidak hanya pada bangunannya yang sering menggunakan gedung-gedung tua tetapi juga karena koleksi-koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan juga tidak akan terganggu dengan virus-virus komputer yang hampir setiap hari bertambah ratusan jumlahnya. Membaca dengan buku akan terasa lebih nyaman dari pada membaca pada sebuah komputer yang paling canggih sekalipun. Entah mengapa buku seperti memiliki nyawa dimana akan terasa berbeda dengan membaca informasi dari internet. Kita seakan terhubung dengan penulisnya. Selain itu buku tetap menjadi suatu kebutuhan karena kita saat ini tidak dapat dilepaskan dari penggunaan buku sebagai pendukung dan sarana belajar kita. Untuk mengembalikan peringkat perpustakaan menjadi nomor satu dan primadona masyarakat dalam mencari informasi, maka perpustakaan juga harus bisa bersaing dengan internet dalam segi apapun, bentuk pelayanan ataupun fasilitas yang diberikan. Karenanya kita membutuhkan perpustakaan yang ideal untuk kita semua.

B. Tujuan

Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk ikut menyumbangkan pemikiran sehingga turut andil dalam usaha membangun perpustakaan sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan perpustakaan di negeri ini.

II.         Landasan Teori

A.      Pengertian Perpustakaan

Tentu saja terdapat arti yang melekat pada sebuah kata perpustakaan. Arti tersebut dapat seperti perpustakaan dalam arti tradisional dimana berarti sebuah koleksi buku dan majalah. Pengertian yang lain yaitu perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Walaupun perpustakaan ini dapat saja dimiliki oleh perorangan, maksudnya adalah buku-buku yang ada tersebut adalah koleksi pribadi, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar buku yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biayanya sendiri.

Seiring dengan perkembangan jaman, dimana saat ini informasi tidak hanya ditulis dalam buku, maka muncullah pengertian perpustakaan modern. Pengertian ini muncul karena saat ini tidak sedikit perpustakaan juga menjadi tempat baik menyimpan atau mengakses banyak informasi dari microfilm, rekaman kaset, CD, DVD dan menyediakan fasilitas umum untuk mengakses gudang data, CD-ROM dan internet. Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer). Karenanya selain perpustakaan dapat diartikan sebagai tempat menyimpan koleksi besar buku, juga, diartikan sebagai tempat menyimpan dan mengakses informasi yang telah dikumpulkan sebelumnya sehingga dapat digunakan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhannya.

B.      Perpustakaan Ideal

Hal-hal yang harus dipenuhi oleh sebuah perpustakaan sehingga layak disebut sebagai perpustakaan ideal, yaitu:

1.    Sumber daya manusia yang mengelola perpustakaan haruslah manusia-manusia yang memiliki pendidikan dan keterampilan dalam pengelolaan dan pengembangan perpustakaan.

2.    Sistem manajemen perpustakaan yang digunakan merupakan sistem yang praktis dan efektif.

3.     Lengkapnya koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan.

4.    Banyaknya dana pendukung pengembangan perpustakaan.

5.    Dimilikinya bagian humas yang bekerja secara maksimal sehingga mendukung pengembangan perpustakaan.

6.    Perpustakaan dapat memberikan pelayanan terbaik dan cepat dimana akan memuaskan pengguna dan mendatangkan pengguna lebih banyak lagi.

7.    Perpustakaan perlu lebih terbuka terhadap kemauan dan keinginan pengguna serta dapat memberikan pengetahuan mengenai pemanfaatan perpustakaan semaksimal mungkin.

8.    Penguasaan teknologi informasi sehingga menunjang pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan perpustakaan, khususnya untuk mewujudkan perpustakaan on-line.

9.    Adanya pustakawan penghubung yang bertugas sebagai pembimbing, pendidik, pemberi informasi dan penasehat terhadap sebuah informasi yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan.

Jadi untuk membangun sebuah perpustakaan ideal, maka paling tidak sebuah perpustaan haruslah memenuhi hal-hal tersebut di atas. Dimulai dengan pengadaan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bidang teknologi informasi dan pengelolaan perpustakaan. Kemudian bidang humas perpustakaan yang diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang perpustakaan dan mencari dana untuk menambah koleksi buku dan pengembangan perpustakaan. Hal yang selanjutnya adalah pengadaan pustakawan penghubung yang saat ini masih jarang dimiliki oleh perpustakaan dan penggunaan sistem manajemen yang lebih terbuka terhadap masukan dari masyarakat sehingga perpustakaan mampu memberikan layanan yang terbaik bagi pengguna perpustakaan.

III.         Pembahasan

Ideal merupakan kata yang akan memiliki banyak arti dikarenakan ini sangat berhubungan dengan pandangan pribadi seseorang. Akan sangat sulit untuk mengatakan bahwa sesuatu itu sudah ideal atau belum. Mungkin ideal bagi pemahaman satu orang akan sangat berbeda dengan pemahaman orang lain. Begitu juga halnya dengan sebuah perpustakaan ideal. Perpustakaan ideal akan memiliki pengertian bahwa perpustakaan itu mendekati atau hampir memenuhi keinginan semua orang dan harapan orang-orang terhadap sebuah perpustakaan. Walaupun pada akhirnya ideal ini tidak akan dapat tercapai dikarenakan sifat manusia yang tidak pernah merasa puas. Selalu saja ada hal-hal yang harus diperbaiki atau diperbaharui setiap hari bahkan setiap detiknya. Karenanya apa yang akan dituliskan di sini merupakan sebagian kecil hal-hal yang dapat diperbaiki untuk mencapai sebuah perpustakaan yang hampir ideal. Beberapa diantaranya yaitu sebagai berikut.

A.      Perpustakaan haruslah memiliki tempat yang sesuai.

Kita sering melihat perpustakaan menggunakan gedung-gedung tua yang besar yang diharapkan akan mampu menampung buku dengan jumlah yang banyak. Tetapi saat ini, pemikiran tersebut harus dipertimbangkan karena biasanya gedung tua akan lebih lembab sehingga dapat merusak buku. Merenovasi tanpa mengubah bentuk bangunan dapat menjadi solusi mempertahankan perpustakaan yang menggunakan gedung tua. Pertimbangan lain dalam pemilihan tempat atau dalam membangun perpustakaan adalah faktor kenyamanan. Orang akan sangat senang berlama-lama ditempat yang dirasa mereka sangat nyaman.

B.      Administrasi perpustakaan.

Administrasi ini dapat dilakukan terhadap buku, pegawai perpustakaan dan pengunjung. Dengan administrasi yang baik, maka diharapkan pengelolaan dan pengembangan perpustakaan menjadi lebih mudah. Hal ini dapat digunakan untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan setiap halnya guna pengembangan perpustakaan yang lebih baik. Selain itu akan mempermudah mencari buku lama, mengetahui kebutuhan buku baru, kebutuhan pengembangan SDM pegawai dan mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan pengunjung. Seperti seberapa besar peningkatan atau penurunan pengunjung perpustakaan sehingga dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dalam mengelola dan mengembangkan perpustakaan.

C.      Sumber dana perpustakaan.

Dana untuk perpustakaan menjadi hal yang penting guna pengembangan perpustakaan. Saat ini semua hal selalu dikaitkan dengan uang. Karenanya perpustakaan tidak dapat hanya bergantung pada sumbangan-sumbangan buku untuk menambah koleksinya. Uang juga dibutuhkan perpustakaan untuk memperbaiki dan meningkatkan fasilitas fisik perpustakaan. Harus ada yang dilakukan agar perpustakaan selalu mendapatkan aliran dana yang tidak pernah berhenti. Menarik hati agar donatur mau selalu mendukung pengembangan perpustakaan bukanlah hal yang mudah. Mengandalkan anggaran pemerintahpun sepertinya tidak bijaksana mengingat saat ini pemerintah sedang berkonsentrasi utnuk menaikkan anggaran untuk pemberian sekolah gratis. Hal yang dapat dilakukan perpustakaan mungkin dengan memanfaatkan ruang-ruang kosong yang miliki perpustakaan tanpa harus menggusur ruang-ruang baca atau tempat-tempat buku. Mungkin perpustakaan dapat membuka warung internet atau foodcourt. Selain sebagai bentuk fasilitas perpustakaan, juga menghasilkan pemasukan untuk perpustakaan.

D.      Jaringan sosial dan informasi antar perpustakaan dan perpustakaan keliling.

Perpustakaan dalam bersaing dengan internet tidak boleh kemudian mengalah begitu saja. Tetapi perpustakaan harus bisa memanfaatkan adanya internet untuk menunjang pengembangan perpustakaan. Perpustakaan harus mampu menjalin hubungan dengan perpustakaan-perpustakaan lain baik dalam negeri maupun luar negeri. Pemanfaatan internet dalam membangun komunikasi yang baik antar perpustakaan akan memberikan dampak positif seperti lebih murah dan dapat lebih intensif dalam berkomunikasi. Jaringan sosial yang telah terbentuk antar perpustakaan baik dalam negeri maupun luar negeri akan mempermudah pelaksanaan perpustakaan on-line yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Walaupun perpustakaan tidak dapat dilepaskan dengan bentuk fisiknya yaitu gedung perpustakaan, tetapi perpustakaan on-line ini juga akan menarik minat masyarakat terhadap perpustakaan sehingga akan muncul kepedulian terhadap perpustakaan.

Kemudian dalam melebarkan sayap perpustakaan yang harus menyentuh segala kalangan, maka perpustakaan keliling layak untuk dipertahankan. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh perpustakaan keliling ini jika pihak perpustakaan dapat mengelolanya dengan baik selain hanya meminjamkan buku ke masyarakat pedesaan dan sekolah-sekolah. Mengemban misi penggalangan amal bulan buku, program gemar membaca atau sosialisasi program-program perpustakan yang lain agar masyarakat ikut mendukung pengembangan perpustakaan. Dengan pengenalan lebih baik tentang perpustakaan, maka akan mengubah pandangan masyarakat dimana ternyata perpustakaan ini banayk sekali manfaatnya dan bukan sesuatu yang ketinggalan jaman jika kita pergi mengunjungi perpustakaan.

E.      Perawatan aset-aset perpustakaan

Hal yang tak kalah penting lainnya adalah perawatan aset-aset perpustakaan yang tidak hanya berupa buku. Ada anggapan bahwa membeli lebih mudah dari merawat, tetapi jika merawat dengan benar maka kerusakan tidak akan terjadi dan tidak perlu membeli yang baru. Begitu juga dengan aset perpusatakaan. Banyak sekali aset yang dimiliki perpustakaan yang saling berhubungan. Misalnya jika tembok lembab maka buku-buku akan cepat rusak, atau untuk buku-buku tua yang harus dirawat khusus dengan ditempatkan pada ruang-ruang tertentu. Jaringan komputer yang menyinpan data-data perpustakaan juga harus selalu diperhatikan. Pengamanan gedung dari bencana seperti banjir atau kebakaran juga harus diantisipasi. Pencegahan dan persiapan penanggulangan bencana lebih baik dipersiapkan daripada kita harus kehilangan aset berharga perpustakaan.

Beberapa hal di atas hanya sedikit dari sesuatu yang mengantarkan perpustakaan pada bentuk idealnya. Pemenuhan kemampuan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi merupakan suatu hal yang mutlak. Ini dikarenakan perpustakaan harus selalu mengikuti perkembangan jaman. Perpustakaan tidak bolah lambat dalam meng-up date teknologi karena dalam sisi positif teknologi banyak memiliki manfaat. Kemudian sosialisasi tentang perpustakaan tidak bolah terlupakan. Saat ini dalam masyarakat yang kritis dan modern berbagai kegiatan perpustakaan haruslah disosialisasikan kepada masyarakat. Berbagai program pengembangan perpustakaan akan berhasil dilaksanakan dengan baik jika bentuk sosialisasi yang dilakukan tepat pada sasaran dan tepat pada waktunya. Perpustakaan juga harus menjadi tempat yang nyaman bagi siapa saja. Seperti rumah kita sendiri, perpustakaan merupakan rumah bagi pengetahuan dan menjadi rumah bagi para pencari ilmu yang haus pengetahuan. Perpustakaan yang menjadi layanan publik harus ramah dan tidak membeda-bedakan penggunanya. Simbiosis yang baik akan saling mendukung dan menguntungkan semua pihak.

IV.         Kesimpulan dan Saran

A.      Kesimpulan

Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk menuju perpustakaan ideal yaitu pertama, perpustakaan harus mempunyai tempat yang sesuai, yang nyaman bagi seluruh anggota perpustakaan. Seperti buku, pegawai maupun pengunjung. Kedua, perpustakaan haruslah memiliki administrasi yang baik yang mampu mengelola dan merawat seluruh aset yang dimiliki oleh perpustakaan. Ketiga adalah perpustakaan harus memiliki jaringan sosial yang luas agar mudah dalam mencari informasi untuk pengembangan perpustakaan, mencari dana maupun sebagai sarana mensosialisasikan baerbagai program perpustakaan. Pengembangan jaringan sosial ini dapat menggunakan perpustakaan keliling maupun dengan kemajuan teknologi informasi yang selalu berkembang saat ini.

B.      Saran

Pengembangan perpustakaan bukan saja tanggung jawab instansi pemerintah. Tetapi masyarakat juga sudah seharusnya terlibat dalam berbagai usaha pengembangannya. Perpustakaan tidak akan berkembang dengan baik jika masyarakat tidak mendukung. Karenanya sosialisasi apapun tentang perpustakaan harus gencar dilakukan. Pencapaian perpustakaan yang ideal tidak hanya berdampak pada perpustakaan itu sendiri tetapi juga berpengaruh pada masyarakat. Kecintaan masyarakat pada buku dan perpustakaan akan mempermudah program ini dilakukan. Dengan strategi yang tepat maka kita akan bersama-sama memiliki perpustakaan yang ideal, tidak hanya di pusat-pusat kota, tetapi akan sampai di seluruh pelosok negeri.

sumber : http://www.pemustaka.com/perpustakaan-ideal-sebuah-rumah-untuk-pengetahuan.html

Posted in Uncategorized | 1 Comment